Komoditas unggulan sektor pertanian di Kabupaten Sukamara yaitu: Padi, Jagung, Ubi Kayu, Ubi Jalar, Tanaman Holtikultura.

1. Padi
Padi merupakan jenis komoditas pertanian utama yang paling banyak dikembangkan dibanding jenis tanaman lainnya. Tanaman padi menjadi primadona dibanding jenis tanaman pangan lainnya sehingga banyak masyarakat yang membudidayakan secara meluas.
Berdasarkan RUPM Kabupaten Sukamara kawasan peruntukan komoditas padi luasnya ± 6.739 ha. Potensi komoditas padi di Kabupaten Sukamara berada di Kecamatan Jelai, Kecamatan Pantai Lunci, Kecamatan
Balai Riam, dan Kecamatan Sukamara. Potensi padi di Kecamatan Jelai dan Kecamatan Pantai Lunci
direncanakan menjadi lumbung beras Kabupaten Sukamara.
Pada tahun 2015 luas area panen padi di Kabupaten Sukamara berdasarkan data BPS yaitu sebesar 2.375 ha. Jika dibandingkan dengan ketersedian lahan, luasan yang belum digarap yaitu 4.364 ha. Permasalahan lahan yang masih belum dimanfaatkan dapat diatasi dengan upaya perbaikan irigasi. Selain itu perlu dilakukan pengelolaan lahan yang tepat atau pemberian input yang tepat guna meningkatkan kesuburan lahan. Keberadaan investor pertanian diharapkan mampu mengatasi kebutuhan
beras di daerah yang selama ini sebagian masih dipasok dari luar daerah.

2. Jagung, Ubi Kayu dan Ubi Jalar
Selain tanaman padi, jagung, ubi kayu dan ubi jalar menjadi komoditas unggulan sektor pertanian tanaman pangan di Kabupaten Sukamara. Luas peruntukan lahan kering berdasarkan RTRW Kabupaten Sukamara yaitu 17.719 ha. Dari 17.719 ha lahan peruntukan lahan kering, 9.519 ha berada di wilayah Kecamatan Sukamara dan 7.520 berada di Kecamatan Balai Riam. Sedangkan sisanya berada di Kecamatan Pantai Lunci dan Kecamatan Jelai. Sedangkan menurut data dari Sukamara Dalam Angka Tahun 2018, area panen untuk komoditas jagung 71 ha, ubi kayu 152 ha, dan ubi jalar 70 ha. Jadi saat ini potensi lahan untuk jagung, ubi kayu dan ubi jalar di Kabupaten Sukamara sangat besar.
Sekarang komoditas jagung, ubi kayu dan ubi jalar bukan hanya dijadikan sebagai makanan pokok Sehari-hari, tapi seiring perkembangan teknologi komoditas ini dapat diolah menjadi produk industri seperti makanan ringan yang memberikan keuntungan besar bagi para pelaku usaha. Selain itu untuk komoditas jagung berpotensi untuk dijadikan jagung pipilan. Jagung pipilan biasanya dimanfaatkan untuk pakan ternak.

3. Holtikultura
Tanaman komoditas hortikultura yang menjadi unggulan di Kabupaten Sukamara yaitu komoditas
pisang, durian, jeruk, dan cabe. Adapun durian dan jeruk merupakan salah satu komoditas unggulan,
namun dikarenakan kebutuhan modal yang cukup besar dan budidayanya yang cukup sulit menyebabkan
belum banyak petani yang tertarik mengembangkan komoditas ini.
Saat ini harga jual dan keuntungan dari buahbuahan semakin menjanjikan produksinya. Berdasarkan RTRW Kabupaten Sukamara peruntukan komoditas holtikultura yaitu 114 ha, dengan rincian:
a. Kecamatan Sukamara dengan luas ± 80 ha;
b. Kecamatan Jelai dengan luas ± 12 ha;
c. Kecamatan Pantai Lunci dengan luas ± 4 ha;
d. Kecamatan Balai Riam dengan luas kurang ± 15 ha; dan
e. Kecamatan Permata Kecubung dengan luas ± 3 ha.

4. Kawasan Agropolitan Jelai
Dalam upaya pengelolaan pembangunan kawasan terpadu yang berbasis pertanian, Pemerintah Kabupaten Sukamara mencanangkan program Kawasan Agropolitan Jelai. Pencanangan program agropolitan telah dilaksanakan sejak tahun 2005 yang berada di Kecamatan Jelai dan Kecamatan Pantai Lunci. Pada tahun 2010 telah dibentuk kelompok kerja pengembangan kawasan agropolitan. Program ini bertujuan untuk mendorong berkembangnya pusat perkotaan berbasis pertanian yang dilengkapi dengan fasilitas pertumbuhan ekonomi. Melalui model kota agropolitan mendorong munculnya komoditas unggulan daerah yang memiliki nilai kompetitif di pasaran (marketable) dan dapat mendatangkan investor ke Kabupaten Sukamara.
Kawasan Agropolitan Jelai merupakan kawasan pesisir. Dari aspek produksi pertanian kedudukan Kecamatan Jelai dan Kecamatan Pantai Lunci sangat penting dalam lingkup Kabupaten Sukamara. Penetapan kawasan ini berdasarkan kesamaan karakteristik fisik, dimana kawasan Agropolitan Jelai terdiri dari dataran alluvial, dataran rawa dan dataran pasir. Dataran alluvial tersusun dari material liat dan pasir, dataran rawa atau gambut tersusun dari material bahan organik yang terperangkap dalam genangan air dan dataran pasir pantai yang terbentuk dari proses pengendapan oleh proses laut. Komoditas unggulan yang potensial untuk dikembangkan di Kawasan Agropolitan Jelai yaitu padi sawah, jagung, ubi kayu, ubi jalar, pisang, karet, kelapa, sapi potong dan ayam buras. Desa/kelurahan yang termasuk wilayah Agropolitan Jelai adalah Kuala Jelai, Pulau Nibung, Sungai Baru, Sungai Bundung, Sungai Raja, Sungai Damar, Sungai Tabuk, Sungai Cabang Barat, dan Sungai Pasir.
Luas lahan pengembangan padi sawah di Kawasan Agropolitan Jelai saat ini adalah sekitar 11.000 ha dan berpotensi untuk ditingkatkan menjadi sekitar 36.000 ha apabila dilakukan perbaikan drainase, terutama meliputi wilayah di Desa Pulau Nibung, Kuala Jelai, Sungai Baru, dan Sungai Bundung. Potensi pengembangan budidaya lahan kering termasuk di dalamnya tanaman pangan lahan kering, palawija dan hortikultura ± 44.704 ha. Sedangkan potensi untuk lahan perkebunan adalah 141.684 ha. Kawasan Agropolitan Jelai diharapkan berperan sebagai pusat agro industri, agribisnis, serta memperkuat jaringan pemasaran baik hasil pertanian maupun hasil industri pengolahan pasca panen. Pada Kawasan Agropolitan Jelai dilakukan upaya budidaya optimalisasi pemanfaatan lahan melalui integrated farming (pembangunan pertanian terpadu) yang mengkolaborasikan budidaya pertanian tanaman pangan dan tanaman perkebunan serta peternakan pada satu kawasan yang akan menjadi sentral pembangunan pertanian.

SUB SEKTOR PERTANIAN :